Popular Post

Rabu, 01 Oktober 2014




Bismillahirrahmanirrahim.


Assalamu’alaikum wr. wb.


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang berkat rahmat dan karunianya, blog KSI Ashabul Kahfi kini aktif kembali dan ditangani oleh pengurus KSI 2014-2015. Shalawat serta salam kita haturkan kepada teladan kita Rasulullah SAW serta kerabat dan pengikut-pengikut beliau hingga akhir zaman.


Kali ini, kami akan menyajikan sebuah cerita, yang insyaAllah dapat memotivasi kita semua. Ini kisah tentang sebuah pensil dan penghapus. Mari disimak. 

*
Pensil : "Maafkan aku Penghapus..."



Penghapus : "’Maafkan aku?’, untuk apa, Pensil? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku..."



Pensil : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..."



Penghapus : "Hal itu memang benar...Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru. Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih..."



___________


Renungan :

Si Penghapus adalah Orang Tua kita.

Si Pensil adalah diri kita sendiri.



Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya,

Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya.



Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu,

Orang tua akan terluka (bertambah tua)  dan akan menjadi semakin kecil ( dan akhirnya meninggal). Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri), Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.

“Saat itu…

Aku masih menjadi Si Pensil,

Sungguh hal itu membuat perasaanku tenggelam dalam kesedihan,

Ketika melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah tua dan rapuh.



Dan kini….

Yang tertinggal hanyalah jejak pengorbanan si Penghapus dengan segala kenangan yang pernah aku lalui dan miliki bersama mereka..."
sumber: di sini.
*

Semoga bermanfaat!

Wassalamu’alaikum wr. wb.

- Copyright © KSI Ashabul Kahfi - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -