- Back to Home »
- Jadi Muslim Produktif
Rabu, 24 Desember 2014
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala pujian yang terindah hanya untuk Allah.
Allahumma shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad.
*
Sebagai seorang Muslim, kita harus mengkaji Islam secara benar. Apabila kita telah mengkaji Islam secara benar, kitapun telah menemukan ajaran-ajaran Islam itu adalah ajaran yang bersifat seimbang dan relevan. Agama kita tidak mengharamkan kemodernan, bahkan Islam menjadi penggerak atau pelopor ke arah kehidupan yang maju dan moden. Islam hadir bersifat mudah dan fleksibel, tata cara ibadatnya diatur oleh disiplin ilmu yang relevan sepanjang zaman. Islam sesuai dengan tabiat manusia yang memerlukan ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan.
Inilah di antara daya tarik
Islam bagi orang-orang Barat yang berfikiran maju. Mereka menemukan keserasian
di antara Islam dan gaya hidup moden yang produktif. Islam adalah agama
produktif. Ciri-ciri produktivitas dalam Islam antara lain:
1.
Islam adalah
agama yang meletakkan ibadah dan
bekerja sebagai satu visi dan misi kehidupan.
Sebagaimana firman-Nya dalam
Q.S Hud ayat 61, yang artinya: Dan kepada
Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai, kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu
mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku
amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.
Ayat tersebut
dengan jelas menetapkan tujuan/visi dan misi diciptakannya manusia, yaitu untuk
menyembah Allah dan memakmurkan bumi.
Yakni kita dituntut untuk bekerja, memakmurkan bumi (mengelola bumi), sebagai
bagian dari bentuk ibadah kepada Allah SWT. Begitulah
Islam menuntut setiap umatnya menjadi muslim yang produktif.
2.
Merancang masa depan adalah wajib di sisi agama.
“Barangsiapa yang menghendaki (kebahagiaan hidup) dunia, maka hendaklah
dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki (kebahagiaan hidup) akhirat, maka
hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki (kebahagiaan hidup) keduanya
maka hendaklah dengan ilmu.” (Hadits)
Dari hadits tersebut, betapa
pentingnya ilmu untuk kehidupan manusia. Ilmu digunakan untuk melakukan suatu
tindakan, misalnya seperti beribadah dan bekerja. Oleh karena itu, Islam
mendorong umatnya untuk mencari ilmu dengan giat. Jika seseorang telah mempunyai
banyak ilmu, tentu ia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bertindak dan
mengamalkan ilmunya.
3.
Dedikasi, jujur dan amanah.
Islam mewajibkan setiap umatnya
berjuang untuk kemaslahatan umat manusia seluruhnya. Setiap muslim yang
produktif hendaklah bermoral bersih dan bersifat amanah. Sabda Nabi SAW yang
bermaksud: ”Peniaga-peniaga yang amanah dan jujur akan dibangkitkan bersama-sama
dengan orang-orang yang mati syahid di hari kiamat nanti.” (Ibnu Majah dan
al-Hakim)
Pribadi muslim yang dikehendaki
oleh Al-Qur’an dan sunnah tentu saja adalah pribadi yang shalih; pribadi yang
sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datangnya dari
Allah, oleh karena itu kita harus memiliki karakter-karakter tangguh yang
berlandaskan manhaj rabbani (yang
berlandaskan keislaman, sesuai dengan ajaran-ajaran Islam) untuk menggapai
ridha Ilahi. Dengan memiliki karakter yang berlandaskan manhaj rabbani inilah kita dapat menggapai predikat ‘muslim yang
produktif’.
Bila
disederhanakan, profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim sbb:
1.
Salimul
Aqidah (Aqidah yang Bersih)
Akidah
yang bersih merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan akidah
yang bersih seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah. Dengan
ikatan yang kuat itu seorang muslim tidak akan menyimpang dari jalan dan
ketentuan-ketentuanNya. Dengan kebersihan dan kemantapan akidah, seorang muslim
akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah. Sebagaimana firmanNya dalam
QS Al-An’am [06] : 162. Katakanlah:
sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam.
2.
Shahihul
Ibadah (Ibadah yang Benar)
Hubungan dengan
Allah (hablumminallah) hanya bisa dihubungkan dengan ibadah yang benar. Oleh
karena itu, ketika melakukan ibadah, lakukan dengan baik (ihsan) dan jaga
kekhusyu’annya. Di antaranya dengan menghayatu dan menghadirkan hati dalam
beribadah. Memang, ini bukan pekerjaan mudah. Namun, hal terpenting adalah
proses atau usaha kita dalam menjaga kekhusyu’an tsb. Setiap urusan duniawi
masuk ke hati ketika shalat, spontan fokuskan lagi hati kita kepada shalat dan
luruskan niat ketika akan menyimpang. Setan memang selalu membengkokkan hati
orang yang sedang shalat. Namun yang terpenting adalah pelurusan niat dalam
berbagai aktivitas ibadah kepada Allah. Allah Maha Pengasih dan Penyayang,
Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya dalam meluruskan ibadah (niat)
hanya semata-mata karena Allah.
3.
Matinul
Khuluq (Akhlak yang Kokoh)
Akhlak
yang kokoh atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan perilaku yang harus
dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan
makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, di
dunia dan di akhirat. Jika akidah bagaikan pondasi sebuah bangunan maka akhlak
adalah dindingnya.
Karena begitu
pentingnya memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW
diutus untuk memperbaiki akhlak. Beliau sendiri telah mencontohkan kepada
umatnya akhlak yang agung sehingga diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung”. (QS Al-Walam (68):4)
Sikap
yang harus dimiliki untuk membangun akhlak yang kokoh di antaranya:
· Jujur
· Rendah
Hati
· Ikhlas
· Murah
Hati
· Sabar
· Adil
· Istiqamah
4.
Qowiyyul
Jismi (Kekuatan Jasmani)
Kekuatan
jasmani merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan
jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat
melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya.
Rasulullah SAW
bersabda, “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukim yang lemah.” (HR
Muslim)
5.
Mutsaqqal
Fikri (Intelek dalam Berpikir)
Dalam
Islam, tidak ada satu pun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus
dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang pelajar harus memiliki
wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Dan salah satu metode untuk
meningkatkan daya pikir adalah membaca. Karena neuron-neoron dalam otak kita
akan terstimulus bergerak jika kita membaca.
Oleh
karena itu, Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas
seseorang. Sebagaimana firman-Nya, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran.” QS Az-Zumar [39]: 9.
6.
Mujahadatul
Linafsihi (Berjuang Melawan Hawa Nafsu)
Melaksanakan
kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk menuntut adanya
kesungguhan manakala seseorang berjuang melawan hawa nafsu.
Oleh
karena itu, hawa nafsu yang ada pada diri manusia harus diupayakan tunduk pada
ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman seseorang dari kamu
sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran
Islam).” HR Hakim.
7.
Harishun
Ala Waqtihi (Pandai Menjaga Waktu)
Ada
ungkapan al-waqtu kasy syaif (waktu itu ibadat pedang). Ini adalah ungkapan
yang menggambarkan bahwa ketajaman pedang sama dengan ketajaman waktu. Jika
seseorang bisa memanfaatkan waktu dengan baik maka ia diibaratkan seperti
jagoan yang pandai memainkan pedang. Sebaliknya, orang yang tidak bisa
memanfaatkan waktu dengan baik, maka pedang itu yang akan menebas lehernya.
8.
Munazhzhamun
Fi Syuunihi (Teratur dalam Suatu Urusan)
Ajaran menjadi profesional adalah
ajaran Islam, seperti ajaran agar berislam (mengamalkan ajaran Islam) secara
kaffah (sempurna dan utuh).
9.
Qodirun
Alal Kasbi (Mandiri)
Perintah mencari nafkah amat banyak
dalam Al-Qur’an dan hadits, dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan
kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memilki keahlian apa saja yang
baik agar menjadi sebab baginya mendapat rezeki dari Allah SWT. Rezeki yang
telah Allah sediakan harus diambil, namun dalam mengambilnya memerlukan skill
atau keterampilan khusus.
10.
Nafi’un
Lighoirihi (Bermanfaat bagi Orang Lain)
Bermanfaat bagi orang lain
merupakan sebuah tuntutan bagi setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja
manfaat yang baik sehingga di mana pun dia berada maka orang-orang di sekiarnya
merasaan manfaatnya.
Rasulullah SAW bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR
Bukhari dan Muslim)
Semoga bermanfaat! ^^
Wassalamu'alaikum wr. wb.

![download[4]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4LE0g_uVDbom7MHjVUQ1GwPf_FkZetFbU9JRHMMNr1kVKI4HIJfkAN3E-vWjROeSGWyZOfdCIIgfp0PCEHxZNXjaOqwyO6GxykJhBuVCIVWYWhwZqDdRyDlsdpoUsinda1tgcyjhB8IY/s1600/download.jpg)